Ratusan guru dari berbagai daerah mengikuti pelatihan webinar gratis yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Eduversal setiap Sabtu, Pukul 12.30-13.30 WIB, yang diumumkan melalui channel telegram resmi Eduversal di https://t.me/Eduversal. Program ini khusus untuk membekali para pendidik dengan teknologi terkini yang digunakan dalam pembelajaran daring.

Seperti yang digelar pada hari ini, Sabtu(16/5), yang mengambil tema tentang “Google Classroom Part 2: Advanced Tips and Trick”. Membahas tentang bagaimana memanfaatkan aplikasi Google Classroom untuk kegiatan belajar mengajar (KBM) mulai dari awal hingga penilaian akhir ke siswa.

“Pandemi ini mengajarkan bahwa teknologi yang selama ini dikuasai belum cukup. Dengan (pandemi) ini guru-guru dipaksa untuk menguasai teknologi lainnya dalam pembelajaran. Namun bagaimanapun canggihnya, teknologi hanya alat, tidak bisa menggantikan peran guru dalam arti sebenarnya,” kata Ade Kiki Ruswandi, B.Sc. guru Matematika di Sekolah Pribadi Depok dan juga konsultan Eduversal.

Menurut Ade, di tangan guru yang hebat, apabila teknologi digunakan secara bijak maka akan mampu digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang sesungguhnya yaitu menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, bernalar kritis, berakhlak mulia, mandiri dan berkarakter baik.

Guru-guru juga diimbau menguasai teknologi ini semata-mata untuk mempermudah tugas dalam melakukan pembelajaran kepada anak didiknya. Bukan hanya karena terpaksa. “Misalnya, terpaksa menguasai teknologi karena tuntutan dari Kepala Sekolah. Jangan seperti itu,” tambahnya.

Dijelaskannya ada empat platform teknologi yang lazim digunakan dalam pembelajaran jarak jauh ini.

Pertama, platform telekonferensi. Yaitu teknologi yang memiliki fitur untuk bertemu dengan siswa secara daring, misalnya zoom, skype, dan lainnya. Teknologi ini memungkinkan guru dan murid untuk melakukan tatap muka melakukan proses kegiatan belajar mengajar.

Sedangkan yang platform kedua adalah penyedia konten, misalnya CK-12, Khan Academy, Ruangguru, dan lainnya. Platform ini mempermudah guru sehingga tidak perlu membuat konten mulai dari nol, tapi tinggal mengambil dari konten yang disediakan kemudian menyesuaikan dengan kurikulum masing-masing yang digunakan oleh sekolah.

“Selain itu ada juga Rumah Belajar milik Kemendikbud yang menyediakan konten yang dibutuhkan oleh sekolah. Jadi tinggal mengambil saja di situ,” ujarnya.

Kelompok ketiga adalah LMS atau learning management system yang menjadi tempat bagi guru untuk mengadministrasikan pelajaran, mengirimkan tugas bagi siswanya, memberikan tanggapan atas pekerjaannya, termasuk juga penilaian. “LMS ini juga menjadi sarana komunikasi bagi guru dengan murid terkait tugas-tugas dan pelajaran yang diberikan,” katanya.

Beberapa aplikasi LMS antara lain Google Classroom, Class Dojo , Schoology, Seesaw, dan Edmodo serta lainnya. Karena ada sekolah yang telah membuat LMS-nya versi sendiri. “Namun yang akan kita bahas kali ini khususnya adalah Google Classroom karena sifatnya yang gratis dan bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh semua,” lanjutnya.

Kemudian yang paling penting juga adalah kelompok keempat yang fungsinya untuk meningkatkan interaksi dengan siswa atau students engagement platform. Misalnya, aplikasi peer deck, edpuzzle, classtime dan lainnya.

“Aplikasi tersebut mempermudah kita untuk memberi pelajaran melalui video dan bagaimana berinteraksi dengan siswa. Beberapa platform juga bisa digunakan untuk memberikan tes kepada siswa apakah mereka sudah paham dengan materi yang diberikan. Materi ini sudah dibahas dalam pertemuan sebelumnya dan bisa diakses di laman YouTube Eduversal,” ujarnya.

Dalam sesi selama lebih kurang 60 menit tersebut, Ade Kiki Ruswandi menjelaskan penggunaan Google Classroom secara detil mulai awal hingga akhir. Khususnya penggunaan bermacam-macam fitur yang tersedia di dalam Google Classroom. Fitur itu membantu guru melakukan interaksi belajar mengajar dengan anak didiknya.

Selain tips dan trik penggunaannya, juga dijelaskan bagaimana dalam melakukan penilaian akhir siswa, dimana disediakan berbagai macam pilihan pembobotan untuk mengukur kemampuan siswa dalam penilaian akademiknya. “Di sini juga ada fitur yang mampu mengetahui apakah jawaban yang disampaikan oleh siswa itu original atau hanya mengkopi saja. Misalnya, mengkopi dari laman Wikipedia. Dengan fitur ini bisa diketahui,” papar Ade.

Dalam webinar yang juga berlangsung interaktif ini para peserta juga dapat mengajukan pertanyaan. Seperti yang disampaikan oleh Sri Sunarti, seorang pengajar dari Depok, yang menanyakan apakah grade penilaian bisa direvisi?.

“Bisa disetting dengan mudah dari awal, misalnya sistem penilaian suatu tugas yang diberikan kepada siswa sistemnya yang ingin dilakukan seperti apa? apakah murni atau dengan grade tertentu,” ungkapnya.

Banyak pertanyaan lainnya yang muncul dari para guru yang mengikuti webinar tersebut terkait fungsi-fungsi yang diajarkan dan semuanya kemudian dibahas secara jelas oleh pemateri. Semua penjelasan dan kegiatan webinar tersebut juga diupload pada laman YouTube Eduversal yang bisa diakses kembali oleh para guru yang ingin kembali mengulangi materi yang disampaikan.

Webinar kesekian kalinya ini merupakan bentuk kepedulian lembaga Eduversal atas para pendidik di Indonesia yang kesulitan memaksimalkan teknologi pembelajaran jarak jauh (PJJ). Padahal, kini seluruh kegiatan tatap muka untuk sementara dialihkan dengan sistem belajar daring tersebut menyusul adanya pandemi virus corona atau Covid-19 yang melanda tanah air.

Kondisi ini terjadi karena masih terasa baru dan memerlukan waktu untuk mempelajari beberapa platform yang sesuai dan efektif untuk memaksimalkan kegiatan belajar mengajar bagi anak didiknya.

“Itu wajar karena generasi kita (para guru yang ada saat ini) merupakan generasi Digital Immigrants dimana lahir sebelum teknologi hadir karenanya perlu menyesuaikan diri. Berbeda dengan anak zaman sekarang yang termasuk Generasi Digital Natives yaitu generasi yang lahir dimana teknologi sudah berada di lingkungannya. Karenanya tak heran anak didik kita saat ini lebih familiar dengan teknologi canggih,” tuturnya.

Untuk mengatasi permasalahan beberapa guru yang memerlukan bimbingan khusus dalam mengelola platform media pembelajaran yang interaktif, Eduversal yang telah berpengalaman dalam bidang konsultan pendidikan, mengadakan kegiatan Webinar secara gratis bagi guru-guru di seluruh Indonesia sejak Maret lalu.(EP)

Sumber : Indonesiainside